Bagaimanapun cerita yang kita rangkai, tangis pasti mengiringi. Aku tak mampu untuk berkata bahwa kita akan baik-baik saja, itu mustahil.
Kau juga aku, masih manusia yang entah esok atau lusa mungkin akan melakukan satu, dua, tiga bahkan entah terhitung berapa banyak kesalahan besar atau kecil yang akan kita lakukan.
Kelak, kau akan melambung tinggi, meskipun tidak menyentuh garis khatulistiwa, karena itu terlalu mengada-ada. Tapi, aku sudah meramalnya terlebih dahulu, sayang.
Aku percaya kau akan mampu menyentuh mimpi-mimpimu dengan jemarimu yang penuh peluh dahulu. Meski yang aku khawatirkan adalah: akankah saat masa itu tiba, masih jemariku yang kau genggam dengan penuh percaya diri? Atau aku hanya terduduk di beranda belakang?
Semoga saja, Kelak, aku juga akan berada di udara bersama denganmu. Kita menggapai mimpi masing-masing dan pulang kepada yang sama.